Home / Artikel / Kitab “RISALAH TENTANG PENTINGNYA MENGIKUTI MADZHAB EMPAT”. Karya: KH. Hasyim Asy’ari (1287H-1366H).

Kitab “RISALAH TENTANG PENTINGNYA MENGIKUTI MADZHAB EMPAT”. Karya: KH. Hasyim Asy’ari (1287H-1366H).

poster-48x60-hijau.psd_
ﺭِﺳَﺎﻟَﺔٌ ﻓِﻲْ ﺗَﺄَﻛُّﺪِ ﺍﻟْﺄَﺧْﺬِ ﺑِﻤَﺬَﺍﻫِﺐِ ﺍﻟْﺄَﺋِﻤَّﺔِ ﺍﻟْﺄَﺭْﺑَﻌَﺔِ
ﺗَﺄْﻟِﻴْﻒُ ﺍﻟﺸَّﻴْﺦِ ﻣُﺤَﻤَّﺪْ ﻫَﺎﺷِﻢْ ﺃَﺷْﻌَﺮِﻱ ( 1366-1287 ﻫـ )
Risalah Tentang Pentingnya Mengikuti Madzhab Empat
Karya Hadlratusysyaikh KH.Hasyim Asy’ari
(1287H-1366H)
ﺍِﻋْﻠَﻢْ ﺃَﻥَّ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺧْﺬِ ﺑِﻬَﺬِﻩِ ﺍﻟْﻤَﺬَﺍﻫِﺐِ ﺍﻟْﺄَﺭْﺑَﻌَﺔِ ﻣَﺼْﻠَﺤَﺔً ﻋَﻈِﻴْﻤَﺔً ﻭَﻓِﻲ ﺍﻟْﺈِﻋْﺮَﺍﺽِ ﻋَﻨْﻬَﺎ ﻛُﻠِّﻬَﺎ ﻣَﻔْﺴَﺪَﺓً ﻛَﺒِﻴْﺮَﺓً
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya mengikuti madzhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali) mengandung kemaslahatan yang besar, dan meninggalkan seluruhnyamembawa resiko kerusakan yang fatal.
ﻭَﻧَﺤْﻦُ ﻧُﺒَﻴِّﻦُ ﺫَﻟِﻚَ ﺑِﻮُﺟُﻮْﻩٍ
Kami akan memaparkan persoalan di atas dari beberapa hal :
ﺃَﺣَﺪُﻫَﺎ ﺃَﻥَّ ﺍﻟْﺄُﻣَّﺔَ ﺍِﺟْﺘَﻤَﻌَﺖْ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻥْ ﻳَﻌْﺘَﻤِﺪُﻭْﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺴَّﻠَﻒِ ﻓِﻲْ ﻣَﻌْﺮِﻓَﺔِ ﺍﻟﺸَّﺮِﻳْﻌَﺔِ
Pertama, bahwa umat Islam sudah sepakat bulat untuk mengacu dan menjadikan ulama salaf sebagai pedoman dalam mengetahui, memahami, dan mengamalkan syariat Islam secara benar.
ﻓَﺎﻟﺘَّﺎﺑِﻌُﻮْﻥَ ﺍِﻋْﺘَﻤَﺪُﻭْﺍ ﻓِﻲْ ﺫَﻟِﻚَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺼَّﺤَﺎﺑَﺔِ ﻭَﺗُﺒَّﻊُ ﺍﻟﺘَّﺎﺑِﻌِﻴْﻦَ ﺍِﻋْﺘَﻤَﺪُﻭْﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺘَّﺎﺑِﻌِﻴْﻦَ ﻭَﻫَﻜَﺬَﺍ ﻓِﻲْ ﻛُﻞِّ ﻃَﺒَﻘَﺔٍ ﺍِﻋْﺘَﻤَﺪَ ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀُ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﻦْ ﻗَﺒْﻠَﻬُﻢْ
Dalam hal ini, para tabi’in mengikuit jejak para sahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, lalu para pengikut tabi’in meneruskan langkah dengan mengikuti jejak para tabi’in. Demikianlah seterusnya, pada tiap-tiap generasi, para ulama pasti mengacu dan merujuk kepada orang-orang dari generasi sebelumnya.
ﻭَﺍﻟْﻌَﻘْﻞُ ﻳَﺪُﻝُّ ﻋَﻠَﻰ ﺣُﺴْﻦِ ﺫَﻟِﻚَ ﻟِﺄَﻥَّ ﺍﻟﺸَّﺮِﻳْﻌَﺔَ ﻟَﺎ ﺗُﻌْﺮَﻑُ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺎﻟﻨَّﻘْﻞِ ﻭَﺍﻟْﺈِﺳْﺘِﻨْﺒَﺎﻁِ
Akal yang sehat menunjukkan betapa baiknya pola pemahaman dan pengamalan syariat Islam yang seperti itu. Sebab syariat Islam tak dapat diketahui kecuali dengan caranaql (mengambill dari generasi sebelumnya) dan istinbath (mengeluarkan dari sumbernya, Al Quran dan al Hadits, melalui ijtihad untuk menetapkan hukum).
ﻭَﺍﻟﻨَّﻘْﻞُ ﻟَﺎ ﻳَﺴْﺘَﻘِﻴْﻢُ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺄَﻥْ ﺗَﺄْﺧُﺬَ ﻛُﻞُّ ﻃَﺒَﻘَﺔٍ ﻋَﻤَّﻦْ ﻗَﺒْﻠَﻬَﺎ ﺑِﺎﻟْﺈِﺗِّﺼَﺎﻝِ
Naql tidak mungkin dilakukan dengan benar kecuali dengan cara tiap-tiap generasi mengambil langsung dari generasi sebelumnya secara berkesinambungan.
ﻭَﻟَﺎ ﺑُﺪَّ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺈِﺳْﺘِﻨْﺒَﺎﻁِ ﺃَﻥْ ﻳَﻌْﺮِﻑَ ﻣَﺬَﺍﻫِﺐَ ﺍﻟْﻤُﺘَﻘَﺪِّﻣِﻴْﻦَ ﻟِﺌَﻠَّﺎ ﻳَﺨْﺮُﺝَ ﻋَﻦْ ﺃَﻗْﻮَﺍﻟِﻬِﻢْ ﻓَﻴَﺨْﺮِﻕُ ﺍﻟْﺈِﺟْﻤَﺎﻉَ ﻭَﻳَﺒْﻨِﻲْ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﻭَﻳَﺴْﺘَﻌِﻴْﻦُ ﻓِﻲْ ﺫَﻟِﻚَ ﺑِﻤَﻦْ ﺳَﺒَﻘَﻪُ
Sedangkan untuk istinbath, disyaratkan harus mengetahui madzhab-madzhab ulama generasi terdahulu agar tidak menyimpang dari pendapat-pendapat mereka yg bisa
berakibat menyalahi kesepakatan mereka (ijma’). Dan melanjutkan madzhab-madzhab tersebut dengan ditunjang madzhab-madzhab ulama generasi sebelumnya
ﻟِﺄَﻥَّ ﺟَﻤِﻴْﻊَ ﺍﻟﺼِّﻨَﺎﻋَﺎﺕِ ﻛَﺎﻟﺼَّﺮْﻑِ ﻭَﺍﻟﻨَّﺤْﻮِ ﻭَﺍﻟﻄِّﺐِّ ﻭَﺍﻟﺸِّﻌْﺮِ ﻭَﺍﻟْﺤِﺪَﺍﺩَﺓِ ﻭَﺍﻟﺘِّﺠَﺎﺭَﺓِ ﻭَﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻏَﺔِ ﻟَﻢْ ﺗَﺘَﻴَﺴَّﺮْ ﻟِﺄَﺣَﺪٍ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﻤُﻠَﺎﺯَﻣَﺔِ ﺃَﻫْﻠِﻬَﺎ ﻭَﻏَﻴْﺮُ ﺫَﻟِﻚَ ﻧَﺎﺩِﺭٌ ﺑَﻌِﻴْﺪٌ ﻟَﻢْ ﻳَﻘَﻊْ ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﺟَﺎﺋِﺰًﺍ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻌَﻘْﻞِ
Sebab, semua pengetahuan dan kecakapan yang dimiliki seseorang, misalnya dibidang shorof, nahwu, kedokteran, kesusastraan, pandai besi, perdagangan dan keahlian logam mulia, tidak mungkin begitu saja mudah dipelajari oleh seseorang kecuali dengan terus menerus menuntut ilmu kepada ahlinya. Diluar cara itu, sungguh sangatlangka dan jauh dari kemungkinan, bahkan nyaris tak pernah terjadi, kendatipun secara akal boleh saja terjadi.
ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺗَﻌَﻴَّﻦَ ﺍﻟْﺈِﻋْﺘِﻤَﺎﺩُ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻗَﺎﻭِﻳْﻞِ ﺍﻟﺴَّﻠَﻒِ ﻓَﻠَﺎ ﺑُﺪَّ ﻣِﻦْ ﺃَﻥْ ﺗَﻜُﻮْﻥَ ﺃَﻗْﻮَﺍﻟُﻬُﻢْ ﺍَﻟَّﺘِﻲْ ﻳُﻌْﺘَﻤَﺪُ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﻣَﺮْﻭِﻳَّﺔً ﺑِﺎﻟْﺈِﺳْﻨَﺎﺩِ ﺍﻟﺼَّﺤِﻴْﺢِ ﺃَﻭْ ﻣُﺪَﻭَّﻧَﺔً ﻓِﻲْ ﻛُﺘُﺐٍ ﻣَﺸْﻬُﻮْﺭَﺓٍ
Jika pendapat-pendapat para ulama salaf telah menjadi keniscayaan untuk dijadikan pedoman, maka pendapat-pendapat mereka yang dijadikan pedoman itu haruslah diriwayatkan dengan sanad (mata-rantai) yang benar dan bisa dipercaya, atau dituliskan dalam kitab-kitab yang masyhur
ﻭَﺃَﻥْ ﺗَﻜُﻮْﻥَ ﻣَﺨْﺪُﻭْﻣَﺔً ﺑِﺄَﻥْ ﻳُﺒَﻴَّﻦَ ﺍﻟﺮَّﺍﺟِﺢُ ﻣِﻦْ ﻣُﺤْﺘَﻤَﻠَﺎﺗِﻬَﺎ ﻭَﻳُﺨَﺼَّﺺَ ﻋُﻤُﻮْﻣُﻬَﺎ ﻓِﻲْ ﺑَﻌْﺾِ ﺍﻟْﻤَﻮَﺍﺿِﻊِ ﻭَﻳُﻘَﻴَّﺪَ ﻣُﻄْﻠَﻘُﻬَﺎ ﻓِﻲْ ﺑَﻌْﺾِ ﺍﻟْﻤَﻮَﺍﺿِﻊِ ﻭَﻳُﺠْﻤَﻊَ ﺍﻟْﻤُﺨْﺘَﻠَﻒُ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﻭَﻳُﺒَﻴَّﻦَ ﻋِﻠَﻞُ ﺃَﺣْﻜَﺎﻣِﻬَﺎ ﻭَﺇِﻟَّﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﺼِﺢَّ ﺍﻟْﺎِﻋْﺘِﻤَﺎﺩُ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ
dan telah diolah (dikomentari) dengan menjelaskan pendapat yang unggul dari pendapat lain yang serupa, menyendirikan persoalan yang khusus (takhshish) dari yangumum, membatasi yang muthlaq dalam konteks tertentu, menghimpun dan menjabarkan pendapat yang berbeda dalam persoalan yg tetap diperselisihkan punmemaparkan argumen timbulnya hukum yg begitu. Dikarenakan itu, kalau pendapat-pendapat ulama tadi tak memenuhi syarat yang telah ditentukan seperti diatas,maka pendapat tersebut tak dapat dijadikan pedoman.
ﻭَﻟَﻴْﺲَ ﻣَﺬْﻫَﺐٌ ﻓِﻲْ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟْﺄَﺯْﻣِﻨَﺔِ ﺍﻟْﻤُﺘَﺄَﺧِّﺮَﺓِ ﺑِﻬَﺬِﻩِ ﺍﻟﺼِّﻔَﺔِ ﺇِﻟَّﺎ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟْﻤَﺬَﺍﻫِﺐُ ﺍﻟْﺄَﺭْﺑَﻌَﺔُ ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﺬْﻫَﺐَ ﺍﻟْﺈِﻣَﺎﻣِﻴَّﺔِ ﻭَﺍﻟﺰَّﻳْﺪِﻳَّﺔِ ﻭَﻫُﻢْ ﺃَﻫْﻞُ ﺍﻟْﺒِﺪْﻋَﺔِ ﻟَﺎ ﻳَﺠُﻮْﺯُ ﺍﻟْﺎِﻋْﺘِﻤَﺎﺩُ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻗَﺎﻭِﻳْﻠِﻬِﻢْ
Tidak ada satu madzhabpun di zaman akhir ini yang memenuhi syarat dan sifat seperti diatas selain madzhab empat ini. Memang ada juga madzhab yang mendekati syarat dan sifat diatas, yaitu madzhab Imamiyah (Syi’ah) dan Zaydiyah (golongan Syi’ah). Namun keduanya adalah golongan ahlu bid’ah, sehingga keduanya tidak boleh dijadikan pegangan.
ﻭَﺛَﺎﻧِﻴْﻬَﺎ ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺍِﺗَّﺒِﻌُﻮﺍ ﺍﻟﺴَّﻮَﺍﺩَ ﺍﻟْﺄَﻋْﻈَﻢَ
ﻭَﻟَﻤَّﺎ ﺍﻧْﺪَﺭَﺳَﺖْ ﺍَﻟْﻤَﺬَﺍﻫِﺐُ ﺍﻟْﺤِﻘَّﺔُ ﺇِﻟَّﺎ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟْﺄَﺭْﺑَﻌَﺔَ ﻛَﺎﻥَ ﺍﺗِّﺒَﺎﻋُﻬَﺎ ﺍِﺗِّﺒَﺎﻋًﺎ ﻟِﻠﺴَّﻮَﺍﺩِ ﺍﻟْﺄَﻋْﻈَﻢِ ﻭَﺍﻟْﺨُﺮُﻭْﺝُ ﻋَﻨْﻬَﺎ ﺧُﺮُﻭْﺟًﺎ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺴَّﻮَﺍﺩِ ﺍﻟْﺄَﻋْﻈَﻢِ
Kedua, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Ikutilah golongan terbesar (as-Sawad al-A’zham)!”.
Ketika beberapa madzhab yang tergolong benar telah hilang dan yang tersisa hanya tinggal empat madzhab ini, maka nyatalah bahwa mengikuti empat madzhab berarti mengikuti as-Sawad al-A’zham, dan keluar dari sana berarti telah keluar dari as-Sawad al-A’zham.
ﻭَﺛَﺎﻟِﺜُﻬَﺎ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﺰَّﻣَﺎﻥَ ﻟَﻤَّﺎ ﻃَﺎﻝَ ﻭَﺑَﻌُﺪَ ﺍﻟْﻌَﻬْﺪُ ﻭَﺿُﻴِّﻌَﺖِ ﺍﻟْﺄَﻣَﺎﻧَﺎﺕُ ﻟَﻢْ ﻳَﺠُﺰْ ﺃَﻥْ ﻳُﻌْﺘَﻤَﺪَ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻗْﻮَﺍﻝِ ﻋُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺍﻟﺴُّﻮْﺀِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘُﻀَﺎﺓِ ﺍﻟْﺠَﻮَﺭَﺓِ ﻭَﺍﻟْﻤُﻔْﺘِﻴْﻦَ ﺍﻟﺘَّﺎﺑِﻌِﻴْﻦَ ﻟِﺄَﻫْﻮَﺍﺋِﻬِﻢْ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻨْﺴِﺒُﻮْﺍ ﻣَﺎ ﻳَﻘُﻮْﻟُﻮْﻥَ ﺇِﻟَﻰ ﺑَﻌْﺾِ ﻣَﻦْ ﺍِﺷْﺘَﻬَﺮَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻠَﻒِ ﺑِﺎﻟﺼِّﺪْﻕِ ﻭَﺍﻟﺪِّﻳَﺎﻧَﺔِ ﻭَﺍﻟْﺄَﻣَﺎﻧَﺔِ ﺇِﻣَّﺎ ﺻَﺮِﻳْﺤًﺎ ﺃَﻭْ ﺩَﻟَﺎﻟَﺔً ﻭَﺣِﻔْﻆِ ﻗَﻮْﻟِﻪِ ﻓِﻲْ ﺫَﻟِﻚَ ﻭَﻟَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻗَﻮْﻝِ ﻣَﻦْ ﻟَﺎ ﻧَﺪْﺭِﻱْ ﻫَﻞْ ﺟَﻤَﻊَ ﺷُﺮُﻭْﻁَ ﺍﻟْﺈِﺟْﺘِﻬَﺎﺩِ ﺃَﻭْ ﻟَﺎ
Ketiga, pada saat zaman sudah begitu lama berputar, makin jauh (dari masa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam), dan amanat menjadi begitu mudah disia-siakan, maka tidak boleh berpegang pada pendapat-pendapat oknum-oknum ulama yang buruk, baik dari kalangan hakim-hakim yang menyeleweng maupun mufti-mufti yang hanya mengikuti hawa nafsunya, meskipun mereka mengaku bahwa pendapatnya itu sesuai dengan pendapat ulama salaf yang masyhur integritas pribadinya, loyalitas agamanya dan amanah moralnya, baik secara eksplisit maupun secara implisit, serta memelihara pendapatnya secara bertanggung jawab. Kitapun tidak boleh mengikuti pendapat orang yang kita belum mengetahui persis apakah yang bersangkutan sudah memenuhi persyaratan ijtihad atau belum.
ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺭَﺃَﻳْﻨَﺎ ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀَ ﺍﻟْﻤُﺤَﻘِّﻘَﻴْﻦَ ﻓِﻲْ ﻣَﺬَﺍﻫِﺐِ ﺍﻟﺴَّﻠَﻒِ ﻋَﺴَﻰ ﺃَﻥْ ﻳَﺼْﺪُﻗُﻮْﺍ ﻓِﻲْ ﺗَﺨْﺮِﻳْﺠَﺎﺗِﻬِﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻗْﻮَﺍﻟِﻬِﻢْ ﻭَﺍﺳْﺘِﻨْﺒَﺎﻃِﻬِﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻭَﺍﻟﺴُّﻨَّﺔِ ﻭَﺃَﻣَّﺎ ﺇِﺫَﺍ ﻟَﻢْ ﻧَﺮَ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﻬَﻴْﻬَﺎﺕَ
Apabila kita melihat para ulama ahli tahqiq (penelitian) yang menekuni madzhab-madzhab para ulama salaf, maka ada harapan bahwa mereka akan memperoleh kebenaran dalam usahanya merumuskan pendapat dan penggalian ketentuan-ketentuan hukum dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Sebaliknya, apabila kita tidak melihat hal itu kepada mereka, maka sungguh jauh dari kemungkinan memperoleh kebenaran yang diharapkan.
ﻭَﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﻤَﻌْﻨَﻰ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﺃَﺷَﺎﺭَ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﻋُﻤَﺮُ ﺑْﻦُ ﺍﻟْﺨَﻄَّﺎﺏِ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﺣَﻴْﺚُ ﻗَﺎﻝَ ﻳَﻬْﺪِﻡُ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡَ ﺟِﺪَﺍﻝُ ﺍﻟْﻤُﻨَﺎﻓِﻖِ ﺑِﺎﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻭَﺍﺑْﻦُ ﻣَﺴْﻌُﻮْﺩٍ ﺣَﻴْﺚُ ﻗَﺎﻝَ ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻣُﺘَّﺒِﻌًﺎ ﻓَﻠْﻴَﺘَّﺒِﻊْ ﻣَﻦْ ﻣَﻀَﻰ
0cm 0cm 4.7pt;”> Inilah pengertian yang secara tidak langsung ditunjukkan oleh Khalifah ‘Umar bin Khatthab radhiyallaahu ‘anhu melalui perkataannya: “Islam akan hancur akibat kelihaian orang-orang munafik dalam berdebat dengan menggunakan al-Qur’an.”

Dan juga sahabat Ibnu Mas’ud berpesan: “Barangsiapa menjadi pengikut (yang baik) maka hendaklah mengikuti (para ulama) generasi sebelumnya.”
ﻓَﻤَﺎ ﺫَﻫَﺐَ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺍﺑْﻦُ ﺣَﺰْﻡٍ ﺣَﻴْﺚُ ﻗَﺎﻝَ ﺍَﻟﺘَّﻘْﻠِﻴْﺪُ ﺣَﺮَﺍﻡٌ ﺇِﻟَﻰ ﺁﺧِﺮِﻩْ ﺇﻧَّﻤَﺎ ﻳَﺘِﻢُّ ﻓِﻴْﻤَﻦْ ﻟَﻪُ ﺿَﺮْﺏٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺎِﺟْﺘِﻬَﺎﺩِ ﻭَﻟَﻮْ ﻓِﻲْ ﻣَﺴْﺄَﻟَﺔٍ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ
Dengan demikan gagasan yang pernah dilontarkan Ibnu Hazm bahwa taqlid itu hukumnya haram, sesungguhnya hanya ditujukan kepada orang yang memiliki kemampuan berijtihad meskipun hanya dalam satu permasalahan,
ﻭَﻓِﻴْﻤَﻦْ ﻇَﻬَﺮَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻇُﻬُﻮْﺭًﺍ ﺑَﻴِّﻨًﺎ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃَﻣَﺮَ ﺑِﻜَﺬَﺍ ﻭَﻧَﻬَﻰ ﻋَﻦْ ﻛَﺬَﺍ ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﻟَﻴْﺲَ ﺑِﻤَﻨْﺴُﻮْﺥٍ ﺇِﻣَّﺎ ﺑِﺄَﻥْ ﻳَﺘَﺘَﺒَّﻊَ ﺍﻟْﺄَﺣَﺎﺩِﻳْﺚَ ﻭَﺃَﻗْﻮَﺍﻝَ ﺍﻟْﻤُﺨَﺎﻟِﻒِ ﻭَﺍﻟْﻤُﻮَﺍﻓِﻖِ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤَﺴْﺄَﻟَﺔِ ﻓَﻠَﺎ ﻳَﺠِﺪُ ﻟَﻬَﺎ ﻧَﺴْﺨًﺎ
serta buat orang yang konkrit meyakini bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memerintahkan ini atau melarang itu, sedang perintah atau larangan itu belum dihapuskan.
Keyakinan mungkin dapat diperoleh dengan meneliti banyak Hadits dan pendapat para ulama yang menentang maupun yang setuju, lalu jelas bahwa ketentuannya belum terhapuskan
ﺃَﻭْ ﺑِﺄَﻥْ ﻳَﺮَﻯ ﺟَﻤًّﺎ ﻏَﻔِﻴْﺮًﺍ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﺘَﺒَﺤِّﺮِﻳْﻦَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﻳَﺬْﻫَﺒُﻮْﻥَ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﻭَﻳَﺮَﻯ ﺍﻟْﻤُﺨَﺎﻟِﻒَ ﻟَﻪُ ﻟَﺎ ﻳَﺤْﺘَﺞُّ ﺍِﻟَّﺎ ﺑِﻘِﻴَﺎﺱٍ ﺃَﻭْ ﺍِﺳْﺘِﻨْﺒَﺎﻁٍ ﺃَﻭْ ﻧَﺤْﻮِ ﺫَﻟِﻚَ
Atau mungkin dengan melihat mayoritas terbesar dari golongan ulama yang mendalami ilmunya ternyata sependapat dalam ketentuan tersebut, sementara golongan yang menentangnya tidak mampu mengajukan dalil kecuali hanya berupa qiyas atau istinbath atau yang sejenisnya (bukan berupa dalil nash).
ﻓَﺤِﻴْﻨَﺌِﺬٍ ﻟَﺎ ﺳَﺒَﺐَ ﻟِﻤُﺨَﺎﻟَﻔَﺔِ ﺣَﺪِﻳْﺚِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺇِﻟَّﺎ ﻧِﻔَﺎﻕٌ ﺧَﻔِﻲٌّ
ﺃَﻭْ ﺣُﻤْﻖٌ ﺟَﻠِﻲٌّ
Jika demikian maka tidak ada dalih untuk menyalahi Hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam selain kemunafikan yang terselubung atau kebodohan yang nyata.
ﻭَﺍﻋْﻠَﻢْ ﺃَﻧَّﻪُ ﻟَﺎ ﺑُﺪَّ ﻟِﻠْﻤُﻜَﻠَّﻒِ ﻏَﻴْﺮِ ﺍﻟْﻤُﺠْﺘَﻬِﺪِ ﺍﻟْﻤُﻄْﻠَﻖِ ﻣِﻦْ ﺍِﻟْﺘِﺰَﺍﻡِ ﺍﻟﺘَّﻘْﻠِﻴْﺪِ ﻟِﻤَﺬْﻫَﺐٍ ﻣُﻌَﻴَّﻦٍ ﻣِﻦْ ﻣَﺬَﺍﻫِﺐِ ﺍﻟْﺄَﺋِﻤَّﺔِ ﺍﻟْﺄَﺭْﺑَﻌَﺔِ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺠُﻮْﺯُ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺎِﺳْﺘِﺪْﻟَﺎﻝُ ﺑِﺎﻟْﺂﻳَﺎﺕِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺣَﺎﺩِﻳْﺚِ ﻟِﻘَﻮْﻟِﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻭَﻟَﻮْ ﺭَﺩُّﻭْﻩُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮْﻝِ ﻭَﺇِﻟَﻰ ﺃُﻭﻟِﻲ ﺍﻟْﺄَﻣْﺮِ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻟَﻌَﻠِﻤَﻪُ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﻳَﺴْﺘَﻨْﺒِﻄُﻮْﻥَ ﻣِﻨْﻬُﻢْ
Dan ketahuilah, bahwa setiap orang yang sudah mukallaf (aqil baligh) yang tidak mampu
berijtihad secara mutlak, harus mengikuti salah satu dari empat madzhab dan tidak boleh baginya untuk ber-istidlal (mengambil dalil secara langsung) dari al-Qur’an atau Hadits.
Ini didasarkan pada firman Allah Ta’ala (yang artinya kurang lebih): “Dan seandainya menyerahkan (urusan itu) kepada Rasul dan ulil amri (yang menguasai pada bidangnya) diantara mereka, niscayalah orang-orang yang ingin mengetahui kebenaran akan dapat mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil amri).”.
ﻭَﻣَﻌْﻠُﻮْﻡٌ ﺃَﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﻳَﺴْﺘَﻨْﺒِﻄُﻮْﻧَﻪُ ﻫُﻢُ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺗَﺄَﻫَّﻠُﻮْﺍ ﻟِﻠْﺎِﺟْﺘِﻬَﺎﺩِ ﺩُﻭْﻥَ ﻏَﻴْﺮِﻫِﻢْ ﻛَﻤَﺎ ﻫُﻮَ ﻣَﺒْﺴُﻮْﻁٌ ﻓِﻲْ ﻣَﺤَﻠِّﻪِ
Dan telah dimaklumi, bahwa mereka yang dapat ber-istinbath (mengambil dalil langsung dari al-Qur’an dan Hadits) adalah orang-orang yang telah memiliki cukup keahlian dan kemampuan berijtihad, bukan orang lain, sebagaimana keterangan yang diuraikan dalam bab ijtihad di berbagai kitab.
ﺃَﻣَّﺎ ﺍﻟْﻤُﺠْﺘَﻬِﺪُ ﻓَﻴَﺤْﺮُﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺘَّﻘْﻠِﻴْﺪُ ﻓِﻴْﻤَﺎ ﻫُﻮَ ﻣُﺠْﺘَﻬِﺪٌ ﻓِﻴْﻪِ ﻟِﺘَﻤَﻜُّﻨِﻪِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺎِﺟْﺘِﻬَﺎﺩِ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﻫُﻮَ ﺃَﺻْﻞُ ﺍﻟﺘَّﻘْﻠِﻴْﺪِ ﻟَﻜِﻦِ ﺍﻟْﻤُﺠْﺘَﻬِﺪُ ﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻘِﻞُّ ﺑِﻮُﺟُﻮْﺩِ ﺍﻟﺸَّﺮَﺍﺋِﻂِ ﺍﻟَّﺘِﻲْ ﺫَﻛَﺮَﻫَﺎ ﺍﻟْﺄَﺻْﺤَﺎﺏُ ﻓِﻲْ ﺃَﻭَﺍﺋِﻞِ ﺍﻟْﻘَﻀَﺎﺀِ ﻣَﻔْﻘُﻮْﺩٌ ﻣِﻦْ ﻧَﺤْﻮِ ﺳِﺘِّﻤِﺎﺋَﺔِ ﺳَﻨَﺔٍ ﻛَﻤَﺎ ﻗَﺎﻟَﻪُ ﺍﺑْﻦُ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺡِ ﺭَﺣِﻤَﻪُ ﺍﻟﻠﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ
Adapun orang yang dapat menyandang status mujtahid, maka haram baginya untuk bertaqlid dalam persoalan yang ia sendiri mampu berijtihad, karena kemampuannya berijtihad justru menjadi acuan bagi mereka yang taqlid.
Namun demikian, mujtahid mustaqill (mujtahid yang mampu menggali hukum langsung dari sumbernya, al-Qur’an dan Hadits) dengan memenuhi segala persyaratnnya sebagimana yang telah dijelaskan oleh para pengikutnya dalam permulaan bab qodlo’, ternyata sudah tidak ditemukan lagi sejak kira-kira enam ratus tahun yang silam, sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibnu Shalah rahimahullaau ta’ala
ﺣَﺘَّﻰ ﻗَﺎﻝَ ﻏَﻴْﺮُ ﻭَﺍﺣِﺪٍ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﻟَﺎ ﺇِﺛْﻢَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺍَﻟْﺂﻥَ ﺑِﺘَﻌْﻄِﻴْﻞِ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﻔَﺮْﺽِ ﺃَﻱْ ﺑُﻠُﻮْﻍِ ﺩَﺭَﺟَﺔِ ﺍﻟْﺎِﺟْﺘِﻬَﺎﺩِ ﺍﻟْﻤُﻄْﻠَﻖِ ﻟِﺄَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﻛُﻠَّﻬُﻢْ ﺑُﻠَﺪَﺍﺀُ ﺑِﺎﻟﻨِّﺴْﺒَﺔِ ﺇِﻟَﻴْﻬَﺎ ﻭَﻓَﺮْﺽُ ﺍﻟْﻜِﻔَﺎﻳَﺔِ ﻓِﻲْ ﻃَﻠَﺐِ ﺍﻟْﻌُﻠُﻮْﻡِ ﻟَﺎ ﻳُﺘَﻮَﺟَّﻪُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺒَﻠِﻴْﺪِ
Bahkan tidak sekedar satu orang yang menyatakan manusia sekarang tidak berdosa seandainya meninggalkan kewajiban berijtihad ini, karena manusia zaman sekarang ini terlalu bodoh untuk mencapai derajat ijtihad. Padahal fardlu kifayah dalam hal mencari ilmu tidak mungkin ditujukan kepada orang-orang yang bodoh.
ﻭَﻟَﻴْﺴَﺖِ ﺍﻟْﻤَﺬَﺍﻫِﺐُ ﺍﻟْﻤَﺘْﺒُﻮْﻋَﺔُ ﻣُﻨْﺤَﺼِﺮَﺓٌ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺑَﻌَﺔِ ﺑَﻞْ ﻟِﺠَﻤَﺎﻋَﺔٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﻣَﺬَﺍﻫِﺐُ ﻣَﺘْﺒُﻮْﻋَﺔٌ ﺃَﻳْﻀًﺎ ﻛَﺎﻟﺴُّﻔْﻴَﺎﻧَﻴْﻦِ ﻭَﺇِﺳْﺤَﺎﻕَ ﺑْﻦِ ﺭَﺍﻫَﻮَﻳْﻪِ ﻭَﺩَﺍﻭُﺩَ ﺍَﻟﻈَّﺎﻫِﺮِﻱِّ ﻭَﺍﻟْﺄَﻭْﺯَﺍﻋِﻲِّ
Sebenarnya madzhab-madzhab yang boleh diikuti tidak hanya terbatas hanya kepada empat madzhab saja, bahkan ada golongan ulama dari madzhab yang bisa diikuti, seperti madzhab Sufyan Tsawri dan Sufyan bin ‘Uyaynah, Ishaq bin Rahawayh, madzhab Dawud ad-Zhahiri dan madzhab al-Awza’i.
ﻭَﻣَﻊَ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﻘَﺪْ ﺻَﺮَّﺡَ ﺟَﻤْﻊٌ ﻣِﻦْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺑِﻨَﺎ ﺑِﺄَﻧَّﻪُ ﻟَﺎ ﻳَﺠُﻮْﺯُ ﺗَﻘْﻠِﻴْﺪُ ﻏَﻴْﺮِ ﺍﻟْﺄَﺋِﻤَّﺔِ ﺍﻟْﺄَﺭْﺑَﻌَﺔِ ، ﻭَﻋَﻠَّﻠُﻮْﺍ ﺫَﻟِﻚَ ﺑِﻌَﺪَﻡِ ﺍﻟﺜِّﻘَﺔِ ﺑِﻨِﺴْﺒَﺘِﻬَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﺭْﺑَﺎﺑِﻬَﺎ ﻟِﻌَﺪَﻡِ ﺍﻟْﺄَﺳَﺎﻧِﻴْﺪِ ﺍﻟْﻤَﺎﻧِﻌَﺔِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺘَّﺤْﺮِﻳْﻒِ ﻭَﺍﻟﺘَﺒْﺪِﻳْﻞِ
Meskipun demikian para ulama pengikut madzhab Syafi’i menjelaskan bahwa mengikuti selain empat madzhab adalah tidak boleh, karena tidak ada jaminan kebenaran atas hubungan madzhab itu dengan para imam yang bersangkutan, sebab tidak adanya sanad (mata-rantai) yang dapat menjamin daari beberapa kekeliruan dan perubahan
ﺑِﺨِﻠَﺎﻑِ ﺍﻟْﻤَﺬَﺍﻫِﺐِ ﺍﻟْﺄَﺭْﺑَﻌَﺔِ ﻓَﺈِﻥَّ ﺃَﺋِﻤَّﺘَﻬَﺎ ﺑَﺬَﻟُﻮْﺍ ﺃَﻧْﻔُﺴَﻬُﻢْ ﻓِﻲْ ﺗَﺤْﺮِﻳْﺮِ ﺍﻟْﺄَﻗْﻮَﺍﻝِ ﻭَﺑَﻴَﺎﻥِ ﻣَﺎ ﺛَﺒَﺖَ ﻋَﻦْ ﻗَﺎﺋِﻠِﻪِ ﻭَﻣَﺎﻟَﻢْ ﻳَﺜْﺒُﺖْ ﻓَﺄَﻣِﻦَ ﺃَﻫْﻠُﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﻛُﻞِّ ﺗَﻐْﻴِﻴْﺮٍ ﻭَﺗَﺤْﺮِﻳْﻒٍ ﻭَﻋَﻠِﻤُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﺤِﻴْﺢَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻀَّﻌِﻴْﻒِ ،
Berbeda dengan madzhab empat, karena para pemimpinnya telah mencurahkan jerih payahnya dalam mengkodifikasi (menghimpun) pendapat-pendapat serta menjelaskan hal-hal yang telah ditetapkan atau yang tidak ditetapkan oleh pendiri madzhab. Dengan begitu, maka para pengikutnya menjadi aman dari segala perubahan dan kekeliruan, serta bisa mengetahui mana pendapat yang benar dan yang lemah.
ﻭَﻟِﺬَﺍ ﻗَﺎﻝَ ﻏَﻴْﺮُ ﻭَﺍﺣِﺪٍ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺈِﻣَﺎﻡِ ﺯَﻳْﺪِ ﺑْﻦِ ﻋَﻠِﻲٍّ ﺇِﻧَّﻪُ ﺇِﻣَﺎﻡٌ ﺟَﻠِﻴْﻞُ ﺍﻟْﻘَﺪْﺭِ ﻋَﺎﻟِﻲ ﺍﻟﺬِّﻛْﺮِ ﻭَ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺍﺭْﺗَﻔَﻌَﺖْ ﺍَﻟﺜِّﻘَﺔُ ﺑِﻤَﺬْﻫَﺒِﻪِ ﻟِﻌَﺪَﻡِ ﺍﻋْﺘِﻨَﺎﺀِ ﺃَﺻْﺤَﺎﺑِﻪِ ﺑِﺎﻟْﺄَﺳَﺎﻧِﻴْﺪِ ﻓَﻠَﻢْ ﻳُﺆْﻣَﻦْ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺬْﻫَﺒِﻪِ ﺍﻟﺘَّﺤْﺮِﻳْﻒُ ﻭَﺍﻟﺘَّﺒْﺪِﻳْﻞُ ﻭَﻧِﺴْﺒَﺔُ ﻣَﺎﻟَﻢْ ﻳَﻘُﻠْﻪُ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ، ﻓَﺎﻟْﻤَﺬَﺍﻫِﺐُ ﺍﻟْﺄَﺭْﺑَﻌَﺔُ ﻫِﻲَ ﺍﻟْﻤَﺸْﻬُﻮْﺭَﺓُ ﺍﻟْﺂﻥَ ﺍﻟْﻤُﺘَّﺒَﻌَﺔُ ، ﻭَﻗَﺪْ ﺻَﺎﺭَ ﺇِﻣَﺎﻡُ ﻛُﻞٍّ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻟِﻄَﺎﺋِﻔَﺔٍ ﻣِﻦْ ﻃَﻮَﺍﺋِﻒِ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﻋَﺮِﻳْﻔًﺎ ﺑِﺤَﻴْﺚُ ﻟَﺎ ﻳَﺤْﺘَﺎﺝُ ﺍﻟﺴَّﺎﺋِﻞُ ﻋَﻦْ ﺫَﻟِﻚَ ﺗَﻌْﺮِﻳْﻔًﺎ
Oleh karena itu, tidak sedikit orang yang memberi komentar terhadap Imam Zayd bin ‘Ali. Beliau adalah seorang imam yang agung kedudukannya dan tinggi reputasinya, akan tetapi kepercayaan terhadap madzhabnya menjadi hilang karena para murid-muridnya kurang dalam memberikan perhatian pada pentingnya sanad yang menjamin kesinambungan suatu madzhab.
ﻓَﺎﻟْﻤَﺬَﺍﻫِﺐُ ﺍﻟْﺄَﺭْﺑَﻌَﺔُ ﻫِﻲَ ﺍﻟْﻤَﺸْﻬُﻮْﺭَﺓُ ﺍﻟْﺂﻥَ ﺍﻟْﻤُﺘَّﺒَﻌَﺔُ ، ﻭَﻗَﺪْ ﺻَﺎﺭَ ﺇِﻣَﺎﻡُ ﻛُﻞٍّ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻟِﻄَﺎﺋِﻔَﺔٍ ﻣِﻦْ ﻃَﻮَﺍﺋِﻒِ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡٍ ﻋَﺮِﻳْﻔًﺎ ﺑِﺤَﻴْﺚُ ﻟَﺎ ﻳَﺤْﺘَﺎﺝُ ﺍﻟﺴَّﺎﺋِﻞُ ﻋَﻦْ ﺫَﻟِﻚَ ﺗَﻌْﺮِﻳْﻔًﺎ
Maka madzhab empat inilah madzhab yang sekarang masyhur dan diikuti. Para imam dari masing-masing empat madzhab ini begitu dikenal, sehingga orang yang bertanya tidak perlu lagi diberikan pengenalan kepada mereka, karena begitu nama mereka disebut, dengan sendirinya orang bertanya pasti mengenalnya.
KH. Abdullah Afif
Wallaahu A’lamu Bishshowaab
Pekalongan, 23 Dzul Hijjah 1434 H / 28 Oktober 2013 M
Aswaja Center NU Jawa Barat
Facebook Comments

About @beritasantri

Check Also

Kisah Panji Hilmansyah, Putra Menteri Susi Pudjiastuti yang Mondok di Pesantren Gontor

Kepergian Panji Hilmansyah untuk selamanya membuat Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti tersentak. Pasalnya, Susi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *