Home / Inspirasi / Tiga Model Kematian Menurut Gus Muwafiq Yogya

Tiga Model Kematian Menurut Gus Muwafiq Yogya

JOMBANG- Kehidupan dan kematian adalah kepastian dalam diri manusia. Siapa saja pasti akan mati. Cuma, manusia mesti memilih model kematian yang akan dijalani. Semua boleh memilih, pastinya pilihlah yang terbaik, sebagaimana dipilih para ulama. Ada tiga model kematian: mati yang pada saatnya, ada mati syahid, ada mati VVIP.

Demikian ditegaskan KH Ahmad Muwafiq dari Yogyakarta dalam acara peringatan Haul ke-39 KH Bisri Syansuri dan Haul ke-65 Ibu Nyai Hj. Nur Chodijah di halaman Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar Jombang (18/03).

“Pertama, mati memang sudah pada saatnya. Ditunggu ya mati, tidak ditunggu ya mati. Kalau sudah datang, tidak bisa maju tidak bisa mundur. Makanya, para ulama’ mengajak kita semua berbuat baik. Sehingga ketika waktu mati datang, kita pas melakukan kebaikan. Jangan sampai mati ketika melakukan maksiat. Sangat baik kalau mati ketika sujud,” tegas Gus Muwafiq.

“Kedua, mati yang sekarang baru viral, yakni mati syahid. Semua orang di media sosial saat ini inginnya mati syahid. Saya juga mau, Gus Muhaimin Iskandar juga mau. Cuma ada masalah, yakni syaratnya membunuh orang kafir. Yang susah ini bukan mati syahidnya, tetapi mencari orang kafir itu yang susah. Kok susah? Karena di negeri Indonesia ini susah mencari orang kafir,” lanjutnya.

Gus Muwafiq menegaskan bahwa ini semua karena ulama’  Jombang mengusulkan kepada Bung Karno atas sila ke-4 yang berbunyi kerakyatan. Istilah kerakyatan ini dari Jombang.

“Ketika itu, tanah Nusantara ini dikasih nama wilayah, karena peninggalan para wali. Di Wilayah Timur ada Datuk Ribandang yang membangun kekuasaan. Di Wilayah Tengah ada Raden Fatah, Jaka Tingkir. Di Barat ada Khatib Dayat, di Sumatera para Aryo Abdillah. Semua itu murid para wali. Ketika membangun kawasan ini, dan kemudian dijajah Belanda, lalu dilawan bareng-bareng, Belanda pergi maka kemudian disebut wilayah, bukan jazirah (kawasan),” tegas Gus Muwafiq yang pernah menjadi asisten Gus Dur.

“Nusantara ini adalah teritori para wali. Ketika ini membentuk kekuasaan secara bersama-sama, menjadikan semua perbedaan dalam satu kesatuan, membuat struktur baru yang semua bertanggungjawab. Konsep ini hanya ada dalam sejarah Nabi Muhammad. Semua pribadi harus bertanggungjawab, sesuai yang ditegaskan Kanjeng Nabi, “Semua kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin bertanggungjawab atas kepemimpinannya,” lanjut Gus Muwafiq.

Gus Muwafiq kembali menegaskan bahwa dari kata Ro’iyyah (kepemimpinan) ini dinisbatkan kepada perkataan Nabi Muhammad, maka diserap dalam bahasa Indonesia menjadi kerakyatan. Dalam konstitusi kita tegas disebut kerakyatan dan rakyat.

“Maka, di sini tidak ada kafir harbi, adanya kafir dzimmi. Dengan makna, mencari orang kafir itu susah. Karena tidak ada orang kafir dalam negara demokrasi. Ini jelas susah mencari orang kafir. Tapi semangat mencari orang kafir ini masih besar. Banyak sekali gerakan yang siap mencari orang kafir. Mereka yang pergi ke Suriah masuk dalam kategori ini. Banyak sekali yang menjadi korban iklan ini,” lanjut Gus Muwafiq

Makanya, kata Gus Muwafiq, sekarang lahir mesin produksi orang kafir. Lihat saja, tahlilan kafir, mauludan kafir, peringatan pitong ndino kematian ya kafir, dan lain sebagainya. Sampai kemudian Pancasila itu thogut. Para penjaga Pancasila juga thogut. Inilah paham takfiri yang berkembang saat ini. NU saat ini selalu dituduh sebagai sarang kafir.

“Saya tidak membayangkan, seorangh presenter televisi swasta di Indonesia, baru umur 23 tahun, mengatakan Imam al-Ghazali itu orang yang tidak paham al-Quran dan Sunnah. Ini Imam al-Ghazali, bukan sembarang ulama’. Pengikutnya Imam al-Ghazali itu jutaan manusia di Indonesia. Ternyata, mereka ini mengacu kepada Ibnu Taimiyah dan mereka ini penggemar Muhammad bin Abdul Wahab, alias aliran Wahabi. Ada lagi seorang ustadz yang mengatakan Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki itu musyrik. Ada juga yang namanya Khalid Basamalah yang mengatakan orang tua Nabi Muhammad itu masuk neraka,” lanjut Gus Muwafiq.

“Banyak sekali yang ingin mati syahid, sampai mereka membawa pedang ke gereja, mencari orang kafir. Lihat saja berbagai kasus akhir-akhir ini. lihat juga ketika ada anak muda berani menjelekkan Gus Mus,” tegasnya.

Model VVIP

Sedangkan model ketiga, lanjut Gus Muwafiq, adalah mati VVIP. Mati berdasarkan undangan. Siapa mereka? Yakni jiwa-jiwa yang sudah tenang. Ini yang dilakukan para ulama. Ulama’ adalah wakil rasulullah yang mengantarkan manusia dalam jembatan menuju Allah.

“Kalau politik pakai cara ulama’, maka politik akan mengantarkan orang kepada Allah dalam keadaan husnul khotimah. Ketika PKB itu mau berdiri, para pendirinya menangis kepada Allah. Dari satu makam ke makam lainnya, menangis kepada Allah. Partai ini tidak sembarangan, karena didirikan para ulama’ untuk mengantarkan umat menuju husnul khotimah. Saya menjadi saksi, karena saat itu saya nderekke Gus Dur,” tegas Gus Muwafiq yang didengarkan langsung Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar.

“Ini sama dengan ketika NU mau berdiri. Kiai Hasyim Asy’ari setiap malam 41 kali baca surat at-Taubah, 41 kali baca surat Kahfi. Makanya santrinya Kiai Hasyim itu menjadi tokoh-tokoh besar. Yang masuk NU itu juga beragam, ada yang khusyu’, ada yang cuma sholatnya lebaran saja, dan lainnya. Semua diantarkan Kiai Hasyim menuju husnul khotimah,” pungas Gus Muwafiq. Berita Islam Terkini (mm/rh/an)

Facebook Comments

About @beritasantri

Check Also

Nasihat Gus Miek: Kapan Pun Kita Ditawari Nikah, Kita Harus Siap!

“Awake dhewe kapan ditawari rabi, bismillah siap, siap sanggup mampu meletakkan mental di atas masail …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *