Home / Mozaik / Kisah Gus Dur Menggembleng Dubes Saudi di Pelosok Kampung Pemalang

Kisah Gus Dur Menggembleng Dubes Saudi di Pelosok Kampung Pemalang

Gus Dur dikenal sosok dengan talenta yang luar biasa. Dalam pengkaderan, Gus Dur sosok yang sangat sukses membina kader-kader santri menjadi orang besar sesuai dengan potensi yang dimiliki. Sangat banyak tokoh bangsa yang merasakan jasa Gus Dur dalam mendidik dan menggembleng mental dan spiritual. Mereka betul-betul merasakan gemblengan Gus Dur sangat terasa dan membekas sepanjang hayatnya.

Salah satu gemblengan itu dilakukan Gus Dur kepada Agus Maftuh Abegebriel yang sekarang menjadi Duta Besar Arab Saudi. Saat itu, pada Jum’at 16 Desember 2005, Gus Dur menelpon Agus Maftuh untuk memberikan perintah.

“Mas Maftuh (Gus Dur biasa panggil saya dengan nama ini), saya tanggal 17 Desember sudah kadung nyanggupi mengisi pengajian di Pemalang, tapi ini kondisi saya baru tidak sehat, saya minta tolong njenengan yang ngisi,” kata Gus Dur sebagaimana ditirukan Agus Maftuh.

Karena ini perintah Gus Dur, Agus Maftuh hanya bisa manut dan manut, sam’an watho’atan.

“Saya sebagai santri tidak bisa mengucapkan apa-apa kecuali bilang ‘inggih’ kepada dawuh Kyai. Panitia pengajian haflah juga sudah diberitahu oleh Mas Sulaiman asisten Gus Dur tentang penggantian mendadak ini. Tanggal 16 malam saya berangkat dari Yogya menuju Pemalang. Saya bayangkan tempatnya tidak jauh dari kota. Esok paginya, saya kaget, ternyata tempatnya di pucuk gunung tepatnya di Majalangu Watu Kumpul. Untuk sampai ke lokasi pengajian, saya harus lewat pematang sawah dan harus nyangking sepatu. Dalam hati saya: wah Gus Dur ngerjain saya nih,” kata Agus Maftuh.

Seminggu kemudian, Agus Maftuh berangkat ke Jakarta untuk menemui Gus Dur. Dalam hatinya, ia ingin protes kepada Gus Dur. Tapi jawaban Gus Dur membuat hati Agus Maftuh bergetar, tak berkutik sama sekali.

“Saya sudah tahu kalau tempatnya itu di pucuk gunung. Tapi tujuan saya memerintahkan njenengan supaya tidak lupa dengan para kyai desa yang ikhlas mengajar santri. Kyai Jamil –pengasuh ponpes ini- itu dari Kencong Pare Kediri, dekat dengan tempat njenengan dulu cari ilmu. Saatnya njenengan bayar utang ilmu yang sudah diambil dari Kediri,” kata Gus Dur.

Jawaban ini membuat Agus Maftuh terdiam, matanya berkaca-kaca.

“Ya Allah… aku hanya terdiam, mataku berkaca-kaca trenyuh. Satu, dua, tiga bahkan lebih, tetesan air mengalir dari mataku. Memang betul Kyai Jamil termasuk Kyai aneh, nama pondoknya juga aneh bin asing “IHYA’UL MAUT” menghidupkan orang mati. Aneh, aneh dan aneh,” kata Agus Maftuh.

Dalam hatinya, Agus Maftuh sangat berterima kasih kepada Gus Dur karena sudah mendidiknya dengan gemblengan yang sangat berarti sepanjang hidupnya.

Facebook Comments

About @beritasantri

Check Also

Gus Solah Meninggal Dunia

Salahuddin Wahid atau biasa disapa Gus Solah meninggal dunia, Minggu (2/2). Hal ini dikabarkan putra Gus Solah, Irfan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *