Home / Artikel / Ketika Mbah Moen Jelaskan Misteri Laut Merah

Ketika Mbah Moen Jelaskan Misteri Laut Merah

Waktu itu, negeri Mesir dikuasi oleh penguasa yang sombong sekali. Puncak kesombongannya dia mengaku sebagai tuhan. Dia tidak lain adalah raja Firaun. Untuk menumpas kesombongan raja Firaun ini, Allah Swt telah mengutus Nabi Musa As. Dengan mukjizat yang diberikan kepada Nabi Musa As, akhirnya Allah Swt menenggelamkam raja Firaun dan bala tentaranya di Laut Merah.

Sebutan Firaun tidak hanya terkhusus untuk Firaun yang ada pada zaman Nabi Musa as. Akan tetapi, ada Firaun selainnya. Seperti Firaun yang hidup pada zaman Nabi Ibrahim As dan Firaun yang berkuasa di zaman Nabi Yusuf As. Kesianambungan Firaun-Firaun ini kurang lebih berjalan sekitar 2000 tahun. Semua Firaun-Firaun yang ada itu berwatak jahat kecuali Firaun yang ada pada zaman Nabi Yusuf As.

Karena sering menghina dan memusuhi Nabi Musa As, akhirnya Allah Swt menenggelamkan raja Firaun dan bala tentaranya ke dasar Laut Merah. Anehnya, orang-orang yang ditenggelamkan ini adalah orang yang pernah menghina dan memusuhi Nabi Musa As ketika masih di Mesir. Hal ini persis seperti korban yang terjadi saat perang Badar pada zaman Nabi Muhammad Saw. Korban yang tewas dari tentara kafir Qurasy adalah orang-orang yang pernah menghina dan memusuhi Nabi Muhammad Saw ketika masih berdakwah di Makkah.

Mengapa laut yang menenggelamkan raja Firaun dan tentaranya dinamakan dengan laut Merah? Hal ini disebabkan karena Nabi Musa As memukulkan tongkatnya ke laut yang dapat menjadikannya terbelah membentuk jalan yang bisa dilewati oleh Nabi Musa As dan kaumnnya. Ketika hal ini diangan-angan oleh Syaikhina Maimoen Zubair, ternyata, beliau menemukan sebuah ilmu bahwa ketika laut itu dilewati oleh Nabi Musa As dan kaumnya bentuknya berupa padat atau berbentuk es.

Sedangkan tatkala Nabi Musa As dan kaumnya sudah sampai di daratan sementara raja Firaun beserta bala tentaranya berada di tengah laut, batu es itu menghantam raja Firaun dan tentaranya sehingga mereka mengeluarkan darah berwarna merah yang berceceran yang membuat warna air laut itu menjadi merah. Akhirnya, mencairlah es-es itu bersama dengan darah Raja Firaun dan bala tentaranya. Maka dengan kejadian ini, laut itu disebut dengan Laut Merah.

Siksa Allah kepada raja Firaun tidak hanya berhenti di Laut Merah saja. Akan tetapi lebih dari itu. Allah telah mempermalukan raja Firaun dan istrinya (bukan yang Asiyah) dengan cara jasad keduanya diutuhkan hingga akhir zaman supaya dibuat teladan bagi generasi setelahnya. Jasad raja Firaun ditaruh di dalam Piramida yang kemudian dikeluarkan oleh seorang ahli dari Perancis.

Jasad raja Firaun yang ada di Piramida itu pendek sekali alias cebol. Hanya sekitar 85 cm. Suatu ketika, Syaikhina Maimoen pernah ditanya tentang perihal jasad raja Firaun yang berbentuk cebol. Syaikhina Maimoen menjawab kalau jasadnya Firaun itu mengkeret (menyusut). Namun, setelah Syaikhina Maimoen Zubair berkunjung ke Mesir dan melihat langsung jasad raja Firaun, beliau mengakui bahwa jawabannya tentang jasad raja Firaun yang mengkeret itu salah. Jawaban yang benar itu memang raja Firaun itu bentuknya cebol.

Dari kecebolan raja Firaun ini, dapat disimpulkan bahwa sejelek-jeleknya manusia yang diciptakan Allah itu ada manusia yang bentuknya cebol atau pendek. Orang pendek itu sering menjadi tontonan. Akan tetapi, jangan pernah menghina orang yang pendek. Hal ini sebagaimana pesan yang pernah disampaikan oleh guru Syaikhina Maimoen Zubair, KH. Abdul Karim Lirboyo. Beliau berpesan agar orang yang badannya cebol itu berhati-hati. Sebab, jangan-jangan dia nanti dituduh seperti raja Firaun sebab jasad raja Firaun itu bentuknya cebol. Namun, perlu diketahui, jangan pernah menghina orang yang cebol. Sebab, sahabat Nabi Muhammad Saw. ada yang tubuhnya pendek. Yaitu, Abdullah bin Mas’ud. Jadi, jangan sekali-kali menghina orang yang pendek sebab bisa kuwalat dengan Abdullah bin Mas’ud.

Tentang masalah Firaun yang jasadnya yang diabadikan Allah, KH. Fathurrahman Kafrawi (kakek Syaikhina Maimoen yang pernah menjadi Menteri Agama dan pernah berjasa di UII Yogyakarta di awal dekade) pernah mempunyai sebuah kemusykilan tentangnya. Kemusykilan tentang jasad Firaun ini ia pendam hingga beberapa tahun. Hingga suatu ketika, Kiai Fathurrahman bertanya kepada Kiai Zubair Dahlan tentang masalah tersebut.

Kiai Fathurrahman berkata, “Zubair, saya ini keluaran Al-Azhar, saya telah mendirikan sekolah umum di pesantren saya di Tuban. Namun, saya mempunyai sebuah masalah. Ingin bertanya kepada siapa, saya malu. Sekarang akan saya kemukakan kepadamu. “Mengapa kalau Firaun itu semua dirusak, tapi Firaun yang utama, yang menjadi raja terakhir, mengapa sampai sekarang kita bisa melihatnya?”

Kiai Zubair menjawab pertanyaan Kiai Fathurrahman dengan sebuah jawaban bahwa al-Quran itu penuh dengan sejarah. Akan tetapi, banyak orang yang mengamalkan al-Quran itu hanya di bibir saja. Padahal dalam al-Quran sudah dijelaskan bahwa jasad Firaun yang diabadikan hingga akhir zaman itu menunjukkan ayat Allah bagi orang-orang yang mau berfikir di dalamnya. Allah berfirman :

فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ

“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan Sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami.” ( QS, Yunus : 92)

Mendengar jawaban dari Kiai Zubair Dahlan, Kiai Fathurrahman kagum dengan kecerdasan yang dimilikinya. Padahal di waktu itu umur Kiai Zubair belum genap 25 tahun.

Firaun adalah contoh dari kaum yang menentang risalah utusan dari Allah yang akhirnya dibinasakan bersama dengan kaumnya. Ada tujuh nabi yang kaumnya dibinasakan Allah. Yaitu, umatnya Nabi Nuh As, umatnya Nabi Hud As, umatnya Nabi Shaleh As, umatnya Nabi Ibrahim As, umatnya Nabi Luth As, umatnya Nabi Syuaib dan umatnya Nabi Musa As. Sesudah Nabi Musa As, Allah tidak membinasakan umat-umat nabi-Nya dengan siksaan yang pedih sebagaimana umat ketujuh nabi tadi. Oleh karena itu, tatkala setelah zaman Nabi Musa As, ada salah satu nabi yaitu Nabi Yunus As mempunyai sebuah keinginan agar Allah mau membinasakan umatnya, akan tetapi Allah tidak mengabulkannya. Justru Nabi Yunus As telah diperingatkan Allah dengan berupa dia ditelan dalam perut ikan.

Sarang, 15 Desember 2013

Penulis: Amirul Ulum

Facebook Comments

About @beritasantri

Check Also

Tiga Model Kematian Menurut Gus Muwafiq Yogya

JOMBANG- Kehidupan dan kematian adalah kepastian dalam diri manusia. Siapa saja pasti akan mati. Cuma, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *