Home / Artikel / Cerita Lucu Muktamar XII Tentang Tas Keramat

Cerita Lucu Muktamar XII Tentang Tas Keramat

 

Waktu itu Kamis dini hari usai acara pleno semua komisi Muktamar di Pendopo Lama. Banyak yang pulang. Aku juga pulang. Tapi harus mengambil motor butut di depan mushalla gedung itu. Melihat ada pimpinan sidang sub-komisi Matan yang akan pulang, aku menghampiri.

“Mas, masih ada tas kayak Muktamar kayak jenengan niku, boleh saya dapat untuk kenang-kenangan,” kira-kira begitulah yang aku tanyakan kepada Mas yang ganteng tersebut setelah membuka belakang Kijang Innova, yang disebut ada tas Muktamar yang nganggur, tapi nihil adanya.

Mas ganteng itu akhirnya aku minta menemani ke suatu tempat yang bejibun ada tumpukan ribuan tas keramat bertuliskan Muktamar. Kami masuk ke gedung, setelah menyusuri lorong belakang, toilet dan sederet orang main ceki dan remi. Bertemu dengan penitia bagian bendahara.  Sangat ramah.

Kami diminta oleh beliau menuliskan dua nama yang akan diberikan kenang-kenangan itu. Tapi kertas yang tertulis nama tesebut harus diserahkan kepada seseorang yang katanya bertanggungjawab juga atas gunungan tumpukan tas di bawah tangga itu. Kami perkenalkan diri dari PP MATAN.

loading...

“Sudah dapat rekomendasi dari atas dan bawah belum? Kalau belum, kami tidak bisa mengeluarkan,” kata beliau, sambil main ceki. “Oh, begitu nggeh,” balas Mas Ganteng yang berkali-kali mimpin sidang sub komisi MATAN sejak Jumat.

“Ya sudah bang, gak usah saja, aku hanya minta kok, tidak ngemis,” kataku pada Mas Ganteng, lalu dia buang kertas bertuliskan dua nama atas nama PP MATAN, di selokan toilet yang kami lewati.

Aku yang sejak Sabtu datang, menemani tamu, dikasi ID Panitia Idaroh Wustho, hingga pernah diculik, disidang karena dianggap ngocar-ngocir jadual, padahal bukan, sempat dianggap Romli hanya karena ganti baju Batik cokelat Kudus, benar-benar merasakan, bahwa aku memang Romli.

loading...

Meski begitu, aku sangat bahagia mendengatar dawuh Abah soal MATAN. Andai tak datang, aku tidak merasakan bahagianya kehujanan naik motor butut hingga kenyang air jalanan selama empat jam. Alhamdulillah. Sampai rumah jam 8 Kamis malam.

Facebook Comments

About @beritasantri

Check Also

Karomah Ra Lilur: Main Drama Tapi Ada di Dua Tempat dalam Waktu yang Sama

Ini keanehan lain dari Ra Lilur (KH Khalilurrahman, cicit Syaichona Cholil Bangkalan). Suatu ketika, H …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *