Home / Artikel / 3 Tips Sehat Santap Opor Ayam saat Lebaran Menurut Kedokteran

3 Tips Sehat Santap Opor Ayam saat Lebaran Menurut Kedokteran

Berkumpul dengan keluarga tentu menjadi salah satu agenda utama kebanyakan orang setiap lebaran tiba. Acara kumpul-kumpul semacam ini rasanya tidak lengkap tanpa makanan khas hari raya, seperti ketupat sayur, sambal goreng ati, opor ayam, sate, dan lain-lain. Tanpa disadari, sebagian besar makanan enak ini terbuat dari bahan-bahan kurang sehat seperti minyak yang terlalu banyak, lemak berlimpah, daging bertebaran, hingga santan kental dan tinggi kolesterol. 

Bagi sebagian orang, terutama anak muda, mengonsumsi aneka makanan sarat lemak jenuh ini tidak akan menimbulkan masalah serius, terutama dalam jangka pendek. Namun, bagi mereka yang sudah berumur, pilih-pilih makanan adalah hal wajib yang tidak bisa dihindari jika ingin aktivitas silaturahim tidak terganggu hanya disebabkan encok dan pegel linu. 
Diakui atau tidak, menghindari makanan enak ini saat hari raya adalah hal yang mustahil sedangkan menjaga kesehatan adalah kebutuhan wajib sehingga perlu strategi dan trik-trik sederhana dalam menyantap enaknya makanan lebaran ini tanpa khawatir kesehatan terganggu. Strategi ini secara ringkas disingkat menjadi 3K yaitu kenali, kontrol dan kompensasi. Mari kita bahas satu per satu.
Pertama, kenali. 
Pada tahap ini ada dua hal penting yang perlu diketahui, yaitu kenal diri sendiri dan kenal dengan makanan yang akan disantap. Mengenali diri sendiri berarti mengetahui ada di tingkat mana level kesehatan kita. Apakah pada risiko ringan-sedang (umur <40 tahun) sedang-berat (umur 40-60 tahun) ataupun berat (umur >60 th). 
Kita harus sadar potensi gangguan kesehatan pada pribadi kita masing-masing pribadi kita saat ini. Hal ini bisa diamati dari kondisi kesehatan dalam beberapa bulan terakhir, seperti apakah ada tanda-tanda ke arah darah tinggi, asam urat, kolesterol maupun yang lain atau malah justru sudah terdiagnosis demikian?.  Hal ini tentunya sangat berguna dalam menentukan makanan apa yang cocok bagi tubuh kita. 
Jika sudah kenal dengan diri sendiri selanjutnya adalah mengenali bahan makanan yang ingin disantap. Fungsinya untuk mengurangi makanan-makanan yang khas yang berdampak pada gangguan kesehatan pribadi masing-masing. Bebarapa makanan khas yang berhubungan dengan kondisi kesehatan tertentu adalah: 

a. Mengurangi makanan tinggi garam bagi penderita darah tinggi dan gangguan ginjal.

b. Mengurangi makanan berlemak, otak, jeroan dan sejenisnya bagi penderita kolesterol tinggi dan perlemakan hati.

c. Mengurangi biji-bijian seperti kacang goreng dan emping bagi penderita asam urat tinggi.
Kedua, kontrol.
Selain alergi dan tidak halal, sebenarnya tidak ada makanan yang benar-benar dilarang secara mutlak untuk dikonsumsi tubuh. Mengonsumsi makanan “berbahaya” dalam jumlah minimal dan terkendali masih ditoleransi dalam dunia medis. Yang sangat tidak diperbolehkan adalah jika cara konsumsi makanan ini menjadi terstruktur, sistematis, masif dan ugal-ugalan sehingga menimbulkan disease power atau kesempatan para penyakit untuk memberontak tubuh. 
Alangkah baiknya kita menyantap makanan saat hari raya dalam porsi yang sedang-sedang saja. Kurang lebih seperti dalam kita beragama, tidak ekstrim kanan dan tidjak juga ekstrim kiri. Sholat itu ibadah, tapi kalau sampai lupa anak istri itu toxic namanya. Sama seperti makan. Makan itu kebutuhan tapi apabila sampai sepuluh kali sehari itu ugal-ugalan namanya. 
Pada tahap kontrol ini 100% dibutuhkan kesadaran dari para pembaca sendiri dalam membatasi asupan makanan yang masuk sehingga tidak berlebihan. Sudah diperbolehkan makan sebaiknya tidak sampai kelewatan batas. 
Ketiga, kompensasi.
Dengan banyaknya bahan sumber penyakit yang masuk tubuh, maka diperlukan penyeimbang (balancer) berupa makanan dan aktivitas yang jauh lebih sehat dari biasanya. Oleh karena itu untuk mengimbangi konsumsi daging berlebih, selama lebaran, kita sebaiknya juga menaikkan frekwensi makan buah dan sayur. Tidak perlu buah-buah yang mahal, jeruk yang banyak di pasar sudah cukup untuk menambah antioksidan tubuh. Antioksidan ini selain berfungsi sebagai penambah daya tahan tubuh juga sebagai penggempur radikal bebas yang merusak pembuluh darah. 
Satu hal lagi yang perlu diperhatikan adalah konsumsi air putih. Setelah 1 bulan dihajar kolak dan dawet, sebaiknya kita tidak pernah kekurangan konsumsi air putih agar fungsi ginjal tetap bertahan baik dalam jangka waktu lama. Indikatornya apa sih dok? Gampang saja, jika air kencing anda sebening air itu tandanya air putih yang anda konsumsi cukup. Namun jika menguning atau bahkan menjadi pekat maka anda perlu hati-hati jangan sampai jatuh kepada kondisi dehidrasi. Kondisi dehidrasi dalam waktu dekat akan membuat anda letih lemah lesu lungset dan seterusnya, tapi dalam jangka panjang dapat memperpendek umur fungsi ginjal optimal. 
Selain kompenasai makanan, tambahan aktivitas fisik seperti jalan pagi atau jogging, senam dan bahkan badminton penting untuk diperhatikan juga. Hal ini berfungsi untuk mempercepat pembakaran kalori tubuh sehingga tidak banyak yang mengendap di perut sehingga bisa menjadikan perut buncit. 
Sebagai tambahan, bagi para penderita diabetes melitus disarankan tetap mengikuti protokol diet yang ada. Karena pada penderita diabetes melitus ini kadar gula dalam darah dapat berganti dengan cepat sehingga akan mempengaruhi fungsi-fungsi organ yang lain. 
Ringkasnya, prinsip “sak madya” atau “sekadarnya” ini sangat penting diterapkan dalam aktivitas “makan memakan” pada lebaran nanti. Pembersihan jiwa dan raga secara maksimal di bulan puasa sebaiknya menjadi pondasi bagus untuk menjaga kesehatan di 11 bulan berikutnya.

dr. Muchammad Zamroni, alumni Pesantren Sirojuth Tholibin, Brabo, Grobogan, Jawa Tengah

Facebook Comments

About @beritasantri

Check Also

Mengenal Penerjemah Tulisan China di Makam Gus Dur

Jika kita berziarah ke makam KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di kompleks Pesantren Tebuireng, Jombang, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *